Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Ratusan pengunjung memadati Mega Mall Batam Centre pada hari Minggu tanggal 15 Maret 2009 sejak pukul 13.00 WIB. Yang membedakan dari biasanya, sekitar 700 pengunjung ini memakai pakaian seragam pencak silat, apalagi bentuk dan warnanya beraneka ragam. Bahkan diantaranya tampak membawa berbagai macam senjata, seperti celurit, pedang, golok, trisula, toya, tekfi, double stick, triple stick, dan lainnya. Para pesilat dari berbagai perguruan pencak silat ini tampak duduk lesehan di lantai sambil berbincang-bincang bersama di sekeliling matras dan panggung yang berada di atrium timur Mega Mall Batam Centre hingga membuat suasana mall menjadi riuh bergemuruh. Bukan hanya pesilat berbagai perguruan pencak silat dari Kota Batam saja yang ada, namun sebagian diantaranya juga dari perguruan pencak silat negeri tetangga, Singapura. Mereka berkumpul menjadi satu dalam suatu even yang diberi nama Gelar Seni Budaya dan Atraksi Pencak Silat Serumpun Singapura dan Batam.


Suara mereka mendadak reda setelah dipecahkan oleh suara dari Johar Arif, MBA., sang pembawa acara, mengawali dibukanya acara ini. Beberapa tamu undangan, baik dari Batam maupun dari Singapura, mulai datang menuju ke kursi yang berada di atas panggung. Dalam acara ini turut diundang Walikota Batam yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Drs. H. Syamsul Bahrum, AMP., M.Si., Ph.D., Asisten II Ekbang Walikota Batam. Setelah disambut dengan tari persembahan yang disuguhkan oleh Dinas Pariwisata Kota Batam, langsung dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia Pelaksana oleh Nurdin Arief, S.H. Dalam sambutannya, Nurdin mengatakan bahwa pagelaran ini dikemas dalam bentuk penampilan peragaan seni pencak silat tanpa ada unsur perlombaan, sifatnya untuk menjalin silaturahmi.


Acara dilanjutkan dengan sambutan pertama yang disampaikan oleh Maman Mansur, S.E., Ketua Umum Pengkot IPSI Batam. Maman mengungkapkan bahwa acara ini merupakan gebrakan awal sebelum menggelar festival silat se-ASEAN yang direncanakan untuk digelar di Batam. Sambutan kedua disampaikan oleh Dr. Ir. H. Chablullah Wibisono, M.M., Ketua Umum Pengprov IPSI Kepulauan Riau, dengan pidato yang berapi-api membakar semangat ratusan pesilat yang hadir. Sambutan juga disampaikan oleh Aeji bin Karmak, ketua kontingen Singapura, Raja Muchsin, S.E., Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam dan Edi Sihite, Ketua Harian KONI Kota Batam. Tampak hadir juga H. Gintoyono, B.E., S.E., M.M., Ketua Umum Pengkot IPSI Batam yang baru terpilih dalam Muskot III IPSI Batam 2009 untuk periode 2009-2013.


Suguhan pertama diberikan oleh IPSI Provinsi Kepulauan Riau berupa peragaan Jurus Tunggal Baku, baik tangan kosong maupun bersenjata golok dan toya. Suguhan berikutnya disajikan oleh sepasang pesilat Singapura berupa permainan pedang, diperagakan oleh seorang pesilat dari Pencak Pokolan Bawean berpasangan dengan seorang pesilat dari Seligi Tunggal Kemuning. Nuansa seni budaya tradisional terasa kental dengan adanya gendang pencak yang selalu mengiringi setiap atraksi yang ditampilkan di sepanjang acara ini. Selain dari dua perguruan pencak silat tersebut, kontingen Singapura juga menampilkan beberapa atraksi pencak silat yang diperagakan oleh pesilat dari Setia Hati, Asad Perwanit, Titi Pinang, Sendeng Pukulan dan Kuningan. Selain atraksi pencak silat, kontingen Singapura juga menampilkan atraksi gamelan yang diperagakan oleh pesilat dari Nayaga Cimande.


Pesilat-pesilat Batam pun seperti tidak mau kalah. Mereka menampilkan berbagai atraksi yang tidak kalah menarik. Dari Perisai Diri ditampilkan peragaan teknik silat Minangkabau. Kilatan sepasang celurit pun menyambar ke berbagai penjuru pada saat peragaan oleh anggotanya. Diperagakan juga teknik olah pernafasan untuk menahan jeratan sabuk di leher yang pada saat bersamaan juga dihajar dengan tendangan dari depan dan belakang. Dari Merpati Putih ditampilkan atraksi mematahkan plat baja memakai tangan dengan menggunakan teknik olah pernafasan. Bahkan mayoritas peraganya adalah pesilat anak-anak dan ada seorang pesilat ibu-ibu yang rambutnya sudah mulai memutih. Dari Pagar Nusa ditampilkan atraksi debus dengan menusuk tangan menggunakan peniti dan batang kembang api yang kemudian dinyalakan, disusul dengan panjat tangga yang terbuat dari parang. Perguruan pencak silat dari Batam lainnya yang juga menampilkan atraksi yang tidak kalah menariknya diantaranya yaitu Persinas Asad, Setia Hati Organisasi, Budi Suci Melati, Elang Laut, Walet Puti, Himssi, Setia Hati Terate, Satya Sejati, Kera Sakti, Suci Hati, Pandawa, Bintang Surya dan Cempaka Putih.


Dalam sambutannya pada saat membuka acara ini, Syamsul Bahrum mengharapkan acara seperti ini semakin intens diadakan. Bahkan kalau perlu diadakan kompetisi pencak silat se-Asia Tenggara dengan Batam sebagai tuan rumah. Dirinya sangat mendukung digelarnya acara atraksi pencak silat. Menurutnya, pencak silat bukan sekedar olahraga saja melainkan juga sebagai tradisi yang syarat akan nilai-nilai spiritual dan kultural.


www.ipsibatam.co.nr


Blog EntryMar 16, '09 12:39 AM
for everyone
Salam bagi seluruh pecinta seni bela diri!

Absen hampir 5 bulan lebih, akhirnya saya bisa kontribusi kembali di blog ini. Menjelang salah satu event yang cukup ditunggu-tunggu oleh kalangan seniman bela diri maupun pencinta olahraga MMA adalah event yang diadakan oleh rekan-rekan di klub Synergy Jujitsu bulan Mei nanti, yaitu Synergy Showdown; sebagai penggemar MMA saya ingin sharing sedikit tentang sejarah MMA Modern.

Harap dicatat bahwa tulisan ini diambil dari koleksi literatur saya, sehingga bilamana ada kesalahan mohon koreksi atau masukannya.

Menemukan Pankration

Pertama kali saya tiba di Los Angeles sekitar tahun 1985 saya ingat betul pertama kalinya saya dibawa ke toko "Martial Arts" di sekitaran daerah Berkeley oleh ayah saya. Untuk pertama kalinya saya terheran dengan begitu banyaknya peralatan, buku dan video yang dijual di toko tersebut.

Dari sekian banyaknya materi ada satu judul buku yang cukup unik dan "stand out" diantara materi video lainny yaitu buku yang berjudul "Mu Tau" The Modern Greek Karate
, buku ini tentu membuat saya kaget karena selama ini saya pikir hanya di Jepang yang ada Karate! (maklumlah saya masih bocah pada waktu itu) alhasil saya pun meminta ayah untuk membeli buku ini dan selama dua minggu berikutnya saya sering bangun pagi dan tidur malam membaca buku karangan Jim Arvanitis ini.

Di buku inilah pertama kalinya saya membaca tentang bela diri yang oleh orang Yunani disebut sebagai Pankration.

Bela diri yang dari gambar-gambar di buku mengingatkan saya pada pertandingan WWF (World Wrestling Federation) ternyata menggabungkan elemen pukulan, tendangan dan bantingan yang selama ini belum pernah saya liat.

Pengarang yang saya kenal lewat buku ini, seiring dengan waktu pelan-pelan mul
ai dikenal sebagai salah satu pioneer seni bela diri MMA di Amerika dengan rekor pertandingan yang mengesankan dan metode latihan yang ngga hanya tangguh tapi juga pada zaman itu cukup avantgarde dengan approach latihannya.

Bangkitnya Pankration

Ngga lama setelah meledaknya UFC di sekitar tahun 1993, beberapa klub di Amerika mulai mengajarkan seni Pankration, walaupun menurut Pak Arvanitis ada dua hal yang membedakan seni Pankration modern dengan yang asli yaitu:

1. Modern pankration menurut Pak Arvanitis adalah simulasi tempur dan konsep bela diri tangan kosong budaya Yunani, sehingga tentu banyak modifikasi yang dilakukan agar sistim ini bisa disebar ke khalayak umum seperti penggunaan baju untuk kompetisi (konon di zamannya para petarung Pankras akan bertarung tanpa sehelai baju!) dan tentunya teknik-teknik seperti mencolok mata, menggigit dll tidak diperbolehkan dalam modern pankration.

2. Teknik-teknik olahraga tinju dan gulat menurut Pak Arvanitis juga banyak yang diambil dari Pankration klasik dan walaupun teknik stand up dan ground fight sama-sama diperlukan dalam Pankration, Pak Arvanitis menyarankan atribut penting yang harus dimiliki seorang fighter adalah "Kemampuan beradaptasi dalam pertandingan", menurut dia: "Strategi utama adalah mengungguli lawan dengan kelebihan kita, menghindari kelebihan lawan sambil mengumpan kelemahan dia apakah di tingkat grappling atau striking" : Jim Arvanitis.


Dalam waktu dekat saya akan coba post beberapa video klip tentang Pankration, dan jika memungkinkan interview dengan Jim Arvanitis sendiri (Insya Allah).

Sampai jumpa dan selamat berlatih!







Blog EntryNov 10, '08 4:59 AM
for everyone

Terdorong oleh suatu “kecelakaan kecil” di dojo belum lama ini, saya kemudian tercetus untuk merumuskan beberapa hal seputar aktifitas sparring dalam latihan.

Issue ini sengaja saya angkat karena, setelah saya survey dan mendengar cerita dari rekan-rekan seniman bela diri dan praktisi pertahanan diri aspek safety dalam sparring masih cukup mengkhawatirkan, padahal kegiatan ini seharusnya menjadi bagian latihan yang “membangun” dan penting untuk dibina sebagai pembentukan teknis seni bela diri ybs, fisik, karakter, psikologis dan lain lain.

Berikut aspek-aspek safety atau keselamatan dalam melakukan aktifitas sparring, agar maksimal tujuan kegiatan ini, untuk memudahkan saya membuat singkatan atau akronim yang mudah di ingat yaitu COPS IN BMX :

  • Control: Aspek kendali diri ini saya rasa adalah aspek yang paling utama, karena singkat nya jika anda gemar melakukan suatu gerakan secara kecepatan penuh tanpa menghiraukan faktor keselamatan bagi uke atau teman anda, sudah tentu dalam waktu dekat tidak ada yg ingin berlatih dengan anda.
  • Protective Gear: Gunakan selalu alat pelindung jika anda hendak melaksanakan kegiatan sparring karena alat pelindung tidak hanya melindungi partisipan saat sparring, tapi dalam beberapa kasus juga bisa mengoptimalkan latihan sparring. Sebagai contoh ketika saya remaja saya sempat berlatih jiu-jitsu, dimana tempat latihan untuk Nage (atau bantingan) adalah aspal. Tidak adanya matras untuk berlatih pada saat itu membuat eksekusi teknik tidak bisa all out, sehingga saya sendiri pun harus sedikit menebak seandainya saya menggunakan teknik tersebut dalam kecepatan tinggi, “bagaimana” ending tersebut dll.
  • Safe environment: Setelah di dukung dengan atribut atau perlengkapan peralatan yang lengkap untuk sparring, lingkungan sparring pun harus dibuat se “nyaman” dan se “aman” mungkin agar proses sparring juga bisa berjalan maksimal. Tentu semua peralatan (gear) sparring tidak akan berguna banyak seandainya lantai dojo latihan anda sudah dimakan rayap dan rentan ambruk!
  • Intensity variation: Kecendrungan murid-murid baru adalah ingin “segera” melakukan satu teknik dalam kecepatan tinggi, padahal gerakan tersebut perlu di rekam terlebih dahulu agar bisa optimal saat eksekusi. Oleh karena itu, janganlah terburu-buru dalam melakukan suatu teknik saat sparring; lebih baik lagi buatlah dua atau tiga sesi sparring dimana untuk setiap sesi sparring terbagi dalam kecepatan yang berbeda – beda, selain juga baik sebagai varian sesi pemanasan, sesi ini juga baik untuk mencoba teknik yang lebih sulit yang umumnya susah di lakukan dalam kecepatan tinggi atau nyata.
  • Basics: Start with the basics, ingat dalam seni bela diri apapun mayoritas master-master atau ahli bela diri menjadi “ahli” karena menguasai teknik-teknik dasar.
  • Mistakes: Berlatih seni bela diri seperti halnya apapun dalam hidup adalah sebuah proses, dalam kebanyakan kasus satu proses “Self Discovery” sehingga penting untuk di ingat bahwa aktifitas sparring jangan terlalu di tekankan pada aspek menang atau kalah, tapi penting untuk di catat kesalahan atau details apa saja yang sempat terlewatkan saat sparring sehingga proses sparring menjadi learning tool & experience yang baik.
  • Explore strategy and weakness: Gunakan kesempatan sparring untuk meng “analisa” lawan anda, apa kelebihan nya, dimana ada kekosongan yang bisa anda manfaatkan untuk menggunakan satu teknik andalan anda. Kelemahan yang selama ini menjadi kekurangan anda juga bisa anda perbaiki, karena kekurangan yang terjadi saat “sparring” biasanya akan terlihat cukup “obvious” di mata instruktur.
Demikian pemaparan safety in sparring kali ini, selamat berlatih dan semoga bermanfaat

Salam pendekar dan salam kesatria!
Ueno


Blog EntryOct 3, '08 10:17 PM
for everyone
Eskrido adalah seni beladiri Filipina yang merupakan penggabungan Arnis-Eskrima, Aikido, dan Judo, juga system Jepang lainnya. Menampilkan gaya khas teknik arnis-eskrima yang digabungkan dengan kuncian-kuncian dan bantingan Jujutsu. Selain itu bisa juga diartikan sebagai Eskrima khas Doce Pares, Praktisi Eskrido biasa disebut sebagai “Eskridoist”, “Eskridistas” atau “Eskridonauts”.

Latar Belakang
Suatu saat pada th 1948, Ciriaco Cacoy Canete seorang guru di Sekolah beladiri Filipina Francis Academy di Balamban Cebu, Filipina, ditemui Domingo (dari Kepulauan Negros), Dengan tidak sungkan-sungkan Domingo memberitahukan keinginannya untuk satu pertarungan persahabatan dg Cacoy yang dikenal sebagai seorang eskrimador ulung, Saat sore hari Cacoy dan Domingo sepakat mengadakan pertarungan secara Espada Y Daga.

Senjata masing-masing adalah Stick Olisi (Rotan sepanjang 29 inci) yang dipegang tangan utama (kanan) dan pisau kayu (sepanjang 12 inci) di tangan support (kiri), Saling berhadapan dan berlaga dalam jarak rapat, bak gladiator keduanya menunjukkan keyakinan, keberanian, dengan manuver-manuver cepat pada kepiawaian permaianan senjata mereka dengan ketajaman mata untuk mencari celah-celah yang kosong.

Dalam pertimbangan kecepatan, ketepatan, refleks dan kepekaan, Cacoy mempunyai pertahanan yang ketat, serangan-serangan yang dilancarkan berlaju cepat. Gerakannya begitu menakjubkan, dalam melancarkan kombinasi berbagai sudut serangan olisi dan tusukan pisau, arah serangan pada bagian badan, kepala dan tangan. Perubahan-perubahan mendadak dalam timing dan manuver senjata.

Cacoy sangat terampil menebak pola pemikiran dan pola pergerakan cepat dari lawannya, dalam urutan tiga gebrakan cepat olisi dan pisau lawan terlucuti, Dengan memanfaatkan jeda pengambilan nafas pada pertarungan, Cacoy dengan cepat menyapu kaki, hingga membuat Domingo jatuh dengan keras ke matras yang keras.

Tetapi sebagai lawan yang cukup punya kemampuan, keberanian, kebulatan tekad dan keteguhan, Domingo kembali berdiri dan memberikan perlawanan, tetapi satu sapuan cepat memaksanya untuk kembali bergulung-gulung dilantai.

Pada akhirnya, setelah menyadari tiga kali berturut-turut dia harus tergeletak berhadapan dg sapuan-sapuan kaki cepat, dan selalu menemukan dirinya dengan punggung di lantai. Merasa bahwa perjuangannya dalam pertarungan hanya sia-sia melawan Cacoy, Domingo kehilangan semangatnya, dan memutuskan dengan tergesa-gesa untuk merapat mencari selamat ke arah tembok.

Cacoy, melihat sepintas di wajah lawannya tampak satu kebingungan, kemudian dia memutuskan untuk menyudahi lawannya dg serangan pamungkas dengan teknik lebih cepat dan dahsyat, kombinasi antara olisi dan pisau kayu. Tak pelak, Domingo segera melemparkan senjatanya ke lantai, dan segera mengangkat tangannya pertanda menyerah.

Pertarungan Cacoy dengan Domingo bisa dijadikan pertimbangan, dengan kombinasi teknik yang asing dalam eskrima dan membuat lawannya kalah telak dalam beberapa gebrakan adalah satu pertanda lahirnya satu style baru dalam Doce Pares Arnis Eskrima yaitu “ESKRIDO”

Kisah diatas hanyalah salah satu dari pertarungan yang tak terhitung banyaknya yang dialami oleh Cacoy semasa perkembangannya, Eskrido semakin dikenal di masa-masa th 1948 sampai 1956, Dimasa ini Cacoy lebih mendalami Kodokan Judo di Cebu City, Maret 1956 dibawah Yuichi Hirose (6th Dan), Cacoy menjadi wakil resmi pelatihan Kodokan Judo di Filipina.

Dengan usahanya yang tidak mengenal lelah, penuh kesabaran dan pengabdian. Cacoy berhasil meningkatkan kemampuan dan ketertarikannya dalam olah raga bergulat dan membanting ini, itu dibuktikan dg menjadi kompetitor kejuaraan Jodo dalam tingkat Daerah maupun tingkat Nasional, di Cebu City dan juga di Manila dari tahun 1959 sampai th 1963. Pada tahun 1957 Cacoy mendalami Gulat Bebas dan pada tahun 1963 resmi dibawah naungan Philippine Wrestling Association. Cacoy terus memperluas pengetahuan seni beladiri yang dia miliki, dengan belajar Kung Fu, Shorin Ryu (Okinawa) Karate, Shotokan Karate dan Aikido sampai 1971.

Setelah mempunyai dasar-dasar di beberapa system beladiri, Cacoy memusatkan perhatiannya untuk menggabungkan, menciptakan dan mengembangkan satu system yang baru, yang disebut sebagai “Eskrido”.


(diterjemahkan bebas dari: Eskrido@en.wikipedia)

Blog EntrySep 23, '08 2:58 AM
for everyone
Apa persamaan film Only the Strong, videoklip Christina Aguilera yang berjudul Dirty, dan video games Eddie Gordo? Ketiganya sama-sama menampilkan sosok yang sedang mengeluarkan jurus-jurus capoeira. Seni bela diri ini sedang marak berkembang di Indonesia.

Alkisah, pada abad ke-16, di sebuah kawasan bernama Angola, Afrika, hidup sekumpulan budak yang dijajah orang Portugis. Mereka hidup menderita di bawah tekanan majikan. Ancaman hukuman gantung dan cambuk membayangi nasib mereka. Akan tetapi, semangat perjuangan mereka tetap menyala. Diam-diam mereka melawan. Mereka berhasil menciptakan jurus bela diri baru: capoeira.

Capoeira diciptakan berkat kecerdikan budak Angola mengecoh majikan mereka. Keganasan capoeira ditutupi dengan gaya bela diri yang seindah tarian dan disertai nyanyian khas. Tendangan memutar dan melompat yang dilakukan mampu memesona orang-orang yang menyaksikan. Bahkan, dua orang yang sedang latihan bertarung justru terlihat seperti pasangan yang sedang menari. Capoeira semakin berkembang ketika budak-budak Angola tersebar hingga ke Brasil.

Itu adalah satu teori mengenai lahirnya capoeira. Teori lain yang lebih mendapat dukungan adalah bahwa capoeira lahir di Brasil, diciptakan oleh budak-budak yang berasal dari berbagai kawasan di Afrika, antara lain orang Yoruba, Bantu, Angola, Kongo, dan Mozambik. Ahli-ahli sejarah capoeira lebih mendukung teori ini karena yang ada di Afrika hanyalah sebagian unsur yang terpisah-pisah dari seni itu, bukan bentuknya secara keseluruhan. Dari sintesis tarian, pertarungan dan alat musik dari berbagai kebudayaan Afrika yang berbeda oleh para budak itu terciptalah capoeira.

Seiring perkembangan waktu, Capoeira mulai dikenal sebagai bela diri yang agresif. Kebrutalan capoeira makin parah sejak terjadi pembebasan budak pada tahun 1888. Banyak bekas budak miskin yang menganggur kemudian membentuk geng capoeira untuk berbuat kejahatan. Ini membuat Pemerintah Brasil berang dan melarang olahraga ini pada tahun 1892. Mereka yang ketahuan berlatih atau mengajarkan bela diri tersebut akan dihukum berat. Hukumannya berupa pemotongan otot, lutut, bahkan tenggorokan.

Akan tetapi, riwayat capoeira belum berakhir. Banyak pejuang capoeira yang tetap setia dan berlatih secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya, pada tahun 1937, Getulio Vargas, Presiden Brasil pada masa itu, setuju mencabut larangan capoeira. Beliau malah ingin mempromosikan capoeira sebagai olahraga khas Brasil.

Capoeira makin menyebar di seluruh dunia berkat jasa Mestre (sebutan untuk master dalam capoeira) Bimba (1899-1974). Ia berhasil mengembangkan gaya capoeira baru yang lebih cepat dibandingkan dengan capoeira Angola, yaitu capoeira regional. Gaya tradisional yang disebut Capoeira Angola dipertahankan dan dikembangkan oleh Mestre Pastinha (1889-1982). Di Brasil dan berbagai negara seluruh dunia, umumnya diajarkan kedua gaya itu walaupun ada kelompok yang hanya mengajarkan Capoeira Regional atau Capoeira Angola saja.

Sekarang rakyat Brasil boleh berbangga hati melihat kesenian ini makin kencang berkibar. Apalagi setelah mendapat wadah promosi gratis di film, videoklip, dan video games.


Capoeira di Indonesia

Kota pertama tempat berkembangnya capoeira di Indonesia adalah Yogyakarta. Bisa dibilang, kota ini merupakan "ibu kota" capoeira di Indonesia. "Perkembangannya dimulai tahun 1998 sejak kedatangan Simon, murid Australia yang bisa capoeira," jelas Jilly Likumahuwa yang dikenal sebagai ibu dari Capoeira Jogja Club.

Keahlian Simon ini mengingatkan murid-murid Yogya terhadap bela diri yang dilakukan Mark Dacascos di film Only the Strong. Simon lantas mengajarkan gerakan-gerakan dasar capoeira pada mereka. "Setelah Simon, ada capoeiristas lain yang mampir ke Yogya dan mengajarkan capoeira," Jilly melanjutkan.

Perlahan namun pasti, capoeira makin berkembang. Kelompok-kelompok penggemar capoeira mulai bermunculan. Lalu, sampailah capoeira ke Jakarta. Yoga (22) adalah salah satu cowok yang nekat memopulerkan capoeira di Jakarta.

"Aku pertama belajar dari Internet, VCD, dan videoklip. Lalu aku kembangin sampai akhirnya mengajarkan anak-anak lain yang tertarik," jelas Yoga yang menekuni capoeira sejak tahun 1994. Sayang, usaha ini sempat terhenti karena keterbatasan tenaga pelatih.

Yoga sempat lari ke breakdance yang gerakannya serupa dengan capoeira. Namun, impian menyukseskan capoeira kembali bangkit ketika Yoga bertemu Jilly yang akan membuka cabang klub capoeira di Jakarta. Terhitung sudah sepuluh bulan mereka berhasil mendirikan Jakarta Capoeira Club Indonesia. Hingga sekarang, klub-klub penggemar seni bela diri ini sudah tersebar di seluruh Indonesia. Di antaranya ada di Semarang, Bandung, dan Kalimantan.

Gerakan indah

Apa yang membuat orang-orang sangat menggemari capoeira? "Gerakannya indah. Unik banget," kata Asti, siswi kelas 3 SMU 82. Hal senada juga diungkapkan Endy, siswa kelas 2 SMU 2 yang sudah empat bulan menekuni capoeira, "Saya pertama lihat dari nonton film Only the Strong. Saya tertarik lihat gerakannya yang unik dan beda dibandingin bela diri lain."

Asal tahu saja, film Only the Strong yang diproduksi tahun 1993 ini jadi wadah promosi dahsyat buat capoeira. Film action ini bercerita tentang perjuangan Louis Stevens (diperankan Mark Dacascos) dalam membasmi gembong obat-obatan terlarang di SMU almamaternya. Ia lalu mengajarkan ilmu capoeira pada beberapa murid untuk melawan penjahat. Gerakan capoeira yang cantik tetapi mampu menghajar orang, membius mereka yang menyaksikan film ini.

Belajar capoeira juga bukan cuma berlatih jurus-jurusnya. Kita akan diajari filosofi, nyanyian, dan memainkan alat musik khas Brasil. Semua keahlian ini digunakan agar kita semakin menjiwai capoeira. "Kami juga selalu berusaha menciptakan suasana kekeluargaan supaya anggota-anggota makin betah," ujar Jilly.

Dari suasana kekeluargaan ini, anggota klub lebih mudah menyerap filosofi capoeira. Salah satu filosofinya, "Capoeira dalam bahasa Brasil berarti rumput yang rendah. Jadi, seorang capoeirista tidak boleh sombong. Mereka harus menghormati orang-orang dan menghindari permusuhan," kata Jilly yang sudah puluhan tahun menggeluti kebudayaan Brasil.

Walaupun capoeira merupakan ilmu bela diri, tidak berarti capoeirista boleh menyombongkan keahliannya. Seorang capoeirista sejati harus sabar dan hanya menggunakan ilmu jika keadaan sudah memaksanya untuk membela diri. Sebab, tujuan utama capoeira bukan untuk melakukan kekerasan, tetapi menghindarinya.

Ini sudah jadi tujuan capoeira sejak digunakan budak-budak Angola. Mereka dilarang menunjukkan gerakan agresif pada majikannya sehingga dikembangkan trik mengecoh atau malandro. Sampai saat ini, capoeirista cenderung menonjolkan kelincahan dan kecerdikan daripada kekuatan dan kekerasan.


Mirip breakdance

Kalau dilihat lebih lanjut, gerakan capoeira mirip dengan breakdance, terutama gaya akrobatik seperti kepala di bawah dan lompatan. Keduanya sama-sama membutuhkan kekuatan fisik yang menekankan kelenturan, kekuatan, dan kelincahan. "Tapi, capoeira lebih dulu berkembang dan mengilhami gerakan breakdance," ujar Yoga dan Jilly.

Pada dasarnya, breakdance dan capoeira punya persamaan dan perbedaan. Salah satu perbedaan utama adalah gerakan breakdance lebih ngetop duluan dibandingkan dengan musik hip hop yang biasa mengiringi. Sedangkan sejak awal diciptakan, capoeira wajib melibatkan tarian, musik, dan lagu.

Ketiga unsur inilah yang selalu ditampilkan hingga sekarang. Ketika latihan, ada sesi yang disebut roda. Saat roda, pemain capoeira akan berkumpul melingkar dan bernyanyi lagu khusus. Salah satu atau beberapa orang dari mereka juga akan memainkan alat musik khas Brasil, seperti tamborin yang disebut pandeiro dan berimbau, instrumen yang bentuknya seperti busur panah.

Kemudian, semua anggota maju berpasangan secara bergantian untuk saling beradu. Tetapi, tidak ada gerakan yang sengaja menjatuhkan lawan seperti yang sering ditampilkan bela diri lain. Bahkan, gerakan mereka terjadi lambat dan sebisa mungkin tidak mengenai tubuh lawan.

Atraksi terus berlanjut sambil ditimpali senyum keakraban dan iringan dendang unik. Semua ini membuat kita sadar. Bukan hanya jurus bela diri yang membuat banyak orang kecanduan capoeira. Akan tetapi, suasana keakraban yang terjalin. Capoeira…salve!*

*Salve = salut dalam bahasa Brasil. Kata ini selalu dipakai sebagai bentuk penghormatan pada capoeira.

(Kompas: Trinzi Mulamawiri-Tim Muda)


Blog EntrySep 22, '08 9:52 PM
for everyone
Dimana jarak ideal untuk memaksimalkan striking dalam FMA Stick Fighting? Largo? Medio? Corto? Tentunya jawaban adalah jarak Medio, tetapi dalam hukum aksi-reaksi yang terjadi terjadi adalah, praktisi dg leluasa bisa menjangkau bagian sasaran terbanyak dari ujung kepala sampai lutut lawan, sebaliknya lawan pun bisa melakukan hal yang sama.

Hal yang harusnya dicapai adalah memanfaatkan posisi2 yang paling aman kemudian transisi dan masuk area level Medio. Kondisi yang ekstrem adalah kondisi yang aman:
1. Jauh diluar jangkauan senjata lawan >> Pre Largo (sebelum Largo)
2. Masuk dalam jantung pertahanan lawan dalam posisi "Clinch" >> Post Corto (sesudah Corto)
Dasar pemikiran ini adalah dari Hirarki Jarak dalam pertarungan yang terjadi dari: Largo >> Medio >> Corto

Jarak Largo adalah transisi menuju Medio, dalam jarak ini praktisi harus bisa manipulasi lawan dg memanfaatkan "defanging the snake", yaitu dg tangan pemegang senjata sebagai sasaran serang, Ini adalah konsep Largo-Mano: Targeting an Armed Opponent, dan disini ada footwork liniear Ritirada, yaitu praktisi akan selalu mempertahankan jarak secara ideal dalam jarak Largo, disini semua teknik double stick bisa dipakai: spt Ocho2 (Figure 8), Amara 3 Count (De Kadena), Sinawali Patern dll.

Jarak kedua adalah Medio, "untuk bisa menyelesaikan pertarungan dg sukses, bagian vital dari lawan harus menerima strikes", artinya praktisi harus bisa masuk dalam jarak Medio. Tetapi sebaliknya lawan pun bisa leluasa bisa menjangkau bagian sasaran terbanyak dari ujung kepala sampai lutut! Apa yang harus dilakukan? dalam CDP jarak ini adalah disebut sebagai Media-Largo: Medium Long Range, disini ada manipulasi2 "trap" dalam transisi jarak Largo ke jarak Medio dan sebaliknya, Konsep Media-Largo adalah Konsep Sumbrada: Attack >> Block + Counter >> Block + Re-Counter >> Block + Counter >> Block + Re-Counter >> Sampe Finish (salah satu kalah)

Jarak ketiga adalah jarak Corto, Kondisi yang ekstrem adalah kondisi yang aman masuk dalam jantung pertahanan lawan, dimana lawan akan kesulitan dalam menyerang, yaitu keadaan "Clinch", clinch adalah satu transisi dari posisi aman ke posisi menyerang pada jarak Corto, Dalam CDP ada salah satu konsep yang disebut Corto-Kurbada: Close Range Curved Strikes, ini adalah ciri khas CDP yang di buat oleh GM Cacoy Canete, Disini adalah memanfaatkan Abanico, Planchada dan ada satu desain striking2 yang bisa dilakukan secara stimultant yaitu disebut sebagai Abecedario 12 Pattern Attack. (HC)

FMA sering di katakan sebagai beladiri yang sederhana, dalam sejarah FMA adalah beladiri para petani. Tetapi melihat apa yang ada didalamnya bayangan sederhana itu pasti akan segera berubah menjadi sesuatu yang rumit, ini dapat terlihat dari banyaknya materi dalam kurikulum yang harus dipelajari seperti Double Olisi, Single Olisi, Espada y Daga, Knife Fighting, Pangamot / Mano-mano, mungkin juga begitu banyak matematika permainan angka dalam thread ini.

Semisal, dari materi Cincoteros 5 Count, bila dikembangkan bisa menjadi banyak system, Espada y Daga, Double Olisi, Single Olisi, Knife Fighting, emptyhand system. Disarming ada begitu banyak macam, ada tinjauan dari gerakan2 lebar, gerakan2 detail yang melibatkan wrist, Traping-Locking juga seabrek2.

Bener2 seperti mengarungi satu lautan yang luas tanpa batas, Seorang master akan membutuhkan waktu yang panjang untuk penguasaan terhadap satu sub-system. Tuhon Bill McGrath (Pekiti Tirsia Kali) mengatakan tidak ada kesempurnaan dalam belajar FMA, 12 tahun adalah waktu yang masih terlalu singkat untuk mengexplore secara keseluruhan dalam satu Sub-system FMA.

Setiap beladiri ada tahapan, demikian juga dg FMA, Seorang bayi kalau harus langsung mengkonsumsi Burger-nya Mc Donald, pasti ga mungkin bisa, dia harus membiasakan diri dulu dg bubur halus, namun seiring perkembangganya suatu saat nanti seperti kebanyakan anak kecil pasti akan ribet dan gemar Burger-nya Mc Donald. Step by step, selangkah demi selangkah, itu kalau kita berbicara ttg menaiki anak tangga, kalau langsung lompat pada bagian yang tinggi ya sulit, malah ada kemungkinan jatuh glundung.

FMA adalah beladiri Konsep, dg mengerti konsep setidak2nya ada satu petunjuk yang akan mengarahkan seorang praktisi dalam mengarungi luas-nya lautan FMA. Senjata di ajarkan diawal2 kurikulum, Dari sisi sejarah selain menyiapkan secara instant bagi para petani untuk siap berperang melawan invasi bangsa2 asing, Senjata sendiri memberikan fondasi yang kuat untuk tahapan selanjutnya yaitu emptyhand atau pemakaian tangan kosong.

Double Stick memberikan dasar dalam Stick fighting, dimana praktisi akan mendapat pengetahuan tentang simetri/keseimbangan, adaptasi terhadap alat, koordinasi, ketepatan dan reaksi spontan yang terbatas pada gerakan karena adanya tambahan alat bantu dalam pertarungan, dan kenapa harus dua tangan yang dipersenjatai? hal ini bertujuan untuk mengidupkan satu keadaan tangan yang pasif (tangan kiri bagi orang right handled/bukan kidal) disini praktisi dilatih juga untuk menjadi berani.

Single Stick akan melatih praktisi untuk fokus pada satu bagian anggota badan, disini praktisi belajar pada jarak dan tempo (timing) dan memanagemant power.

Espada Y Daga akan melatih kewaspadaan akan serangan lanjutan, karena dalam espada y daga, tangan support lawan dipersenjatai dengan sesuatu yang tajam, pergerakan-pergerakan detail sangat berarti dalam memanipulasi jarak pertahanan dan penyerangan, hingga praktisi selalu dalam keadaan siap.

Knife Fighting mengajarkan praktisi akan respect atau menghormati lawan (sifat pisau yang tajam), cara bertahan, mencari posisi untuk memberikan reaksi terhadap sesuatu yang berbahaya dalam pertarungan jarak rapat.

Ada satu korelasi dan hubungan yang tidak terputus antar Sub-System dalam FMA. Konsep yang digunakan FMA saling menunjang, mempelajari Stick Fighting System berarti belajar terhadap Edged Weapons System (Pedang dan Pisau) dan juga belajar terhadap Emptyhand System. Praktisi dg bebas mengembangkan core secara indifidual, itulah arti kesederhanaan dalam FMA. (HC)

Blog EntrySep 6, '08 1:13 PM
for everyone
Cerita dari negeri tetangga yang dulu masih masuk wilayah Nusantara Majapahit dan Sriwijaya, yaitu tanah Maharlika, nama ini telah ada jauh sebelum nama Philipina diberikan oleh orang2 Spanyol sebagai penghormatan pada raja Philip, Maharlika artinya adalah kebangsawanan dan kebebasan.

Di Filipina semua beladiri secara umum disebut FMA (Filipino Martial Arts) orang awam hanya melihat Arnis-nya, Eskrima-nya dan Kali-nya, tetapi apa dibalik itu semua? Kemampuan teknik bertarung yang merupakan "pinjaman" dari berbagai kultur menyatu disana. Dari Majapahit dan Sriwijaya sendiri disebut Kali yang merupakan warisan Hindu-Budha, dari migrasi orang2 Melayu disebut Silat, dari orang China Selatan disebut Kuntao, kemudian kedatangan orang2 Spanyol-pun memberi satu warna tersendiri dalam permainan pedang yang kemudian dilatihkan pada stick, bentuk beladiri campuran itu menyatu membentuk satu sosok FMA.

Aspek dalam FMA adalah senjata dan tangan kosong, dimana ditulisan awal2 saya disebutkan bahwa Senjata diajarkan terlebih dahulu, sebagai warisan kebudayaan yang turun temurun.

Pangamot atau Panatukan menggabarkan pemakaian tangan, Sikaran atau Pananjakman menggabarkan pemakaian kaki, Buno dan Dumog untuk gulat, Bugtongan untuk stick fighting.

Karena begitu banyaknya Suku di Filipina pada akhirnya, memberi penamaan pada masing2 artsnya dg nama2 yang berbeda, Ada Eskrima, Arnis, ada yang masih memilih Kali sebagai penamaan pada Artsnya, ada yang tetep bersikukuh memakai nama Kuntaw, tetapi ada pula yang menamakannya sebagai Maharlikas Silat.

Maharlikas Silat artinya adalah silatnya orang2 Maharlika, ya itulah yang disebut FMA saat ini.

Ya itu isi cerita yang saya dengar dari berbagai macam sumber, ga heran kalau dilihat lagi FMA ya ga begitu beda dg Silat. (Hartcone)

*Catatan: Maharlikas Silat juga dipakai sebagai nama salah satu aliran beladiri di FMA spt Doce Pares, Cacoy Docepares Arnis-Eskrima, Modern Arnis, Serada Eskrima, Pekiti Tirsia Kali, San Miguel Eskrima dll.

Blog EntryAug 28, '08 7:22 AM
for everyone
Combined Martial Arts Academy (CMAA) Indonesia dan BELATI (Beladiri Pisau Taktis Indonesia) akan mengadakan "BLADE MASTER COMPETITION 2008" yaitu pertandingan Knife Fighting Pertama di Indonesia.
No weight division, no genre, No age division, just two combatan, two knife, 1 survivor!

Tanggal : 15 November 2008
Tempat : Hall Gulat Senayan, Jakarta Indonesia

Ttg peraturan, safety gear, semua sedang digodok CMAA dan BELATI. Event ini juga mengundang perguruan beladiri dengan senjata, untuk melakukan Demo. Yang sudah memastikan untuk demo sebagai pengisi acara adalah: Team Arnis - Eskrima Cacoy Doce Pares CMAA Indonesia dan BELATI (Beladiri Pisau Taktis Indonesia)

BUT the Million dollar question is "who is the BLADE MASTER 2008" ?

Join the Event and earned the tittle as " THE BLADE MASTER 2008 "

More Info: BLADE MASTERS COMPETITION 2008

(Irwan Hermawan)

Blog EntryAug 25, '08 11:33 AM
for everyone
Halo semua pecinta seni beladiri!
Saat ini saya hadir kembali untuk menyumbangkan video yang bisa didownload dan dinikmati bersama. Kali ini adalah rekaman pertandingan karate , dimana satu tendangan ke arah perut cukup untuk menyelesaikan pertandingan.
Tendangan ini sangat cepat dan saya yakin anda harus me replay video ini. Bila dilihat secara teliti tendangan mengena di atas sabuk sehingga tidak terhitung ilegal.

Saya yakin, tendangan ini telah dilatih secara terus menerus sehingga dapat dilakukan dengan cepat dan akurat.

Salam beladiri dan selamat menikmati !
PS : File berupa flash video (FLV) sehingga harus memiliki FLV player terlebih dahulu

Download FLV player 1,4 Mb
Download Video pertandingan karate (fast and deadly kick!) 1,5 Mb

Merdeka!! Dirgahayu Republik Indonesia !!

Pencak silat tidak diragukan lagi merupakan salah satu budaya bangsa yang sangat berperan dalam sejarah perjuangan bangsa ini dari sejak jaman kolonialisme sampai jaman perang kemerdekaan. Jaman dahulu Beladiri merupakan identitas suatu bangsa yang menunjukan kemampuan dan daya tahan bangsa itu ketika mengalami gangguan atau bahkan memperluas daerah kekuasaan


Awal mula
Sejarah mencatatat bahwa manusia mengembangkan kemampuan beladiri untuk bertahan hidup, kemampuan beladiri ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Beberapa aliran kuno di nusantara memiliki hikayat dan metos bagaimana aliran itu di ciptakan yang sebagian besar nenek moyang kita belajar beladiri kepada binatang atau mengikuti tingkah polah binatang (seperti pada mitos silat cimande, silat bawean, silat melayu). Sebagian besar di lukiskan belajar pada tingkah binatang seperti monyet, macan, ular dan burung.
Beladiri pada perkembangannya digunakan pula sebagai alat untuk memperluas kekuasaan dan mempertahankan kedaulatan kelompok masyarakat yang pada akhirnya pemahaman dan penguasaan beladiri dan kesaktian menjadi sarat untuk menentukan posisi sosial dan politik di masyarakat kala itu. Demikian pula dengan kerajaan - kerajaan di nusantara dimana beladiri ini di ajarkan di lingkungan terbatas dan tidak di ajarkan secara bebas kepada masyarakat umum.
Tercatat kerajaan kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit kala itu memiliki bala tentara yang sangat cakap dalam berperang dan ahli dalam beladiri sehingga bisa memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas pada jamannya. Demikian pula dengan kerajaan Sunda Pajajaran yang tercatat pernah mengalami pertikaian dengan Majapahit pada kasus Puputan Bubat dimana tercatat dalam sejarah semua pengiring putri Pajajaran bertempur sampai darah penghabisan dengan menggunakan paling tidak 7 jurus silat yang di kuasai para pasukan Pajajaran kala pertempuran Bubat terjadi.


Pengajaran silat
Pencak silat mulai berkembang dan melembaga sebagai salah satu mata pelajaran pada masa itu hanya di ajarkan di lingkungan keraton dan lembaga mandala. Di keraton dan istana silat diajarkan pada lungkungan keluarga istana, penggawa sampai pasukan perang. Sedangakan di mandala, silat dan ilmu kebatinan di ajarkan para pendeta dan rohaniawan kala itu, rakyat jelata tidak bisa belajar beladiri begitu saja. Ada status social dan ada aturan yang membatasi penyebaran ilmu beladiri dan kanuragan pada masa itu.
Pada masa awal islam masuk ke bumi nusantara kebiasaan pengajaran beladiri di wiyatamanda ini dilanjutkan, dengan mengajarkan juga silat dan beladiri di lingkungan pesantren guna membantu penyebaran agama islam kala itu. Sehingga akhirnya rakyat bisa mendalami pencak silat ini dan peranan pesantren dan kerajaan islam kala itu sangat besar dalam membantu penyebaran silat di nusantara.
Kebiasaan ini melekat sampai sekarang, budaya solat dan silat masih di pegang teguh pada silat betawi dan Sumatra, kebiasaan berlatih silat di halaman surau setelah shalat isya sampai jam 24 malam menjadi hal yang biasa. Keterikatan antara guru dan murid disimbolkan dengan pengangkatan anak sasian pada silat minang, dimana murid di angkat sebagai anak dari guru. Istilah "lahir silat mencari kawan dan bathin silat mencari tuhan" menjadi sangat popular di tanah minang. Bahkan tinggal di surau dan bersilat sudah merupakan ‘Live Style' bagi para pemuda minang kala itu.

Masa kolonialisme
Silat mulai digunakan sebagai alat perjuangan ketika masa kolonialisme, dimulai dengan pengusiran pasukan Portugis dari Batavia oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahilah, tercatat puluhan ribu pasukan dari mataram, Cirebon dan sekitarnya bergerak guna menghalau pasukan Portugis dari Batavia.
Belum lagi perjuangan masyarakat Banten dalam mengusir Belanda yang menghasilkan kebudayaan Debus. Kebudayaan ini dulu di gunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri pasukan Banten dalam melawan pasukan Belanda. Pertempuran antara Banten dan Belanda ini berakhir setelah Belanda melakukan politik adu domba yang mengakibatkan ratanya istana kerajaan Banten.
Perjuangan melawan kolonialisme tidak luput dari penggunakaan silat sebagai alat untuk membela bangsa kala itu, tercatat pertempuran yang paling besar dalam sejarah kolonialisme belanda adalah perang Diponegoro yang menyebabkan kebangkrutan dari VOC.
Kyai Mojo yang merupakan guru sekaligus penaset spiritual Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda dan di buang ke daerah Tondano di Sulawesi utara. Di Tondano ini beliau tinggal di daerah Jaton (Jawa Tondano) beserta para pengikutnya yang kemudian mengajarkan pelajaran agama dan beladiri pada masyarakat sekitar yang sampe saat ini masih dilestarikan dan dikenal dengan Silat Tondano yang sampai sekarang masih di kembangkan dengan nama "Perguruan Satria Kyai Maja".

Pada masa kolonialisme pengajaran silat di awasi dengan ketat karena di anggap membahayakan keberadaan penjajah kala itu, intelegen sangat memperhatikan siapa saja yang bisa silat dan mengajarkan silat kepada masyarakat dianggap membahayakan dan di jebloskan kepenjara. Ini sangat berpengaruh pada pola pengajaran pencak silat, sehingga pengajaran silat beladiri mulai sembunyi sembunyi dan biasanya di ajarkan dalam kelompok kecil dari rumah ke rumah pada malam hari.
Belanda juga memanfaatkan para jawara dan ahli silat yang mau bekerja sama dengan belanda untuk menjadi opas dan centeng guna menjaga kepentingan para meneer dan tuan tanah kala itu, sehingga tidak jarang terjadi pertikaian dan pertempuran antara para jawara silat ini dengan para pendekar pembela rakyat jelata. Kisah pitung menjadi satu legenda yang terkenal di masyarakat Betawi karena keberaniannya melawan para jawara dan kompeni guna membantu rakyat yang lemah.
Karena pengawasan sosial ini pulalah, maka mulailah di kembangkan silat seni dan ibingan, guna menutupi kesan silat sebagai beladiri, Atraksi ibingan silat ini sangat terkenal dan di tunggu tunggu oleh masyarakat. Orang bisa melihat atraksi silat di upacara perkawinan atau khitanan bahkan pasar malam tanpa di ganggu oleh pihak keamanan pada saat itu karena di anggap sebagai hiburan.
Disinilah mulai di kenal istilah silat kembagan (atau kembang) yang biasanya di tujukan pada silat ibingan dan silat buah yang di tujukan pada silat sebagai beladiri.

Kesadaran Nasionalisme
Dimulai dengan adanya kesadaran politik baru pada awal abad XX dan kebijaksanaan belanda yaitu Etische politiek, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat lewat berbagai program khususnya pendidikan, Peningkatan peranan desa dan di bentuknya polisi desa. Memilik pengaruh pada pola pengajaran silat pada masa itu, silat sudah mulai di ajarkan di sekolah sekolah dasar (desascholen), bahkan kalangan yang dekat dengan belanda seperti priyayi, amtenaren, KNIL bahkan marechausse pasukan khusus Belanda kala itu.
Berjalan dengan timbulnya rasa nasionalisme, maka timbul pula pertetangan di kalangan para pengajar pencak silat (perguruan) pada saat itu tentang siapakah yang berhak mempelajari silat ini. Bolehkah silat di ajarkan pada kaum bangsawan, amtenaren atau hanya untuk bumi putra? Kesadaran akan nasionalisme ini semakin menguat ketika pada tahun 1915 di buka kesempatan untuk mendirikan organisasi politik bagi kalangan bumi putra, pengajaran silat menjadi salah satu materi yang diajarkan di setiap organisasi ini. Seperti pada perkembangan awal Syarikat Islam di daerah Jawa yang diikuti oleh berdirinya persaudaraan Setya Hati oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo yang menyebabkan Belanda sangat mengawasi perkembangan perguruan ini karena memiliki pengikut dan murid yang banyak sekali. Ki Ngabehi Surodiwiryo ini melatih para murid MULO yang pada akhirnya banyak yang menjadi tokoh nasionalis.
Termasuk juga mantan Presiden Sukarno yang Tercatat pernah belajar silat kepada Ua Nampon di Bandung, ini menunjukkan betapa silat sangat berperan dalam meningkatkan rasa kepercayaan diri dan keberanian dalam membela kebenaran.


Masa Penjajahan Jepang
Pada masa penjajahan jepang mulanya menghawatirkan silat di gunakan untuk melawan jepang, namun ternyata tidak di semua tempat terjadi perlawanan terhadap Jepang (sang saudara tua). Akibatnya silat berkembang cukup baik di beberapa daerah bahkan pemerintah jepang yang pada saat itu selain membawa budaya beladirinya ke tanah air seperti karate, judo dan jujitsu. Mereka belajar silat dari para pendekar kita sehingga terjadi pertukaran budaya. Tentara PETA (pemuda pembela tanah air) di ajarkan beladiri Jepang guna berperang melawan Sekutu. Silat mengalami masa militerisasi karena menjadi bagian dari pendidikan militer. Pengajaran silat dilakukan kepada tentara Dai Nippon dan pasukan peta dengan disiplin militer yang sangat ketat.


Masa Perjuangan Kemerdekaan
Silat menjadi bagian yang tidak bisa di pisahkan dalam perang fisik melawan Sekutu dan Jepang, Sebagai salah satu contoh adalah hasil pendidikan PETA yang dienyam oleh I Gusti Ngurah Rai selama pendidikan di Jawa Barat yang kemudian di ajarkan secara sembunyi - sembunyi kepada pasukannya, pendidikan silat ini sangat berpengaruh dalam perjuangan bahkan pada bentuk silat khas Bali. Silat Bali sekarang banyak di pengaruhi oleh aliran silat dari Jawa Barat.
Pasukan Hisbullah yang di bentuk di pesantren Buntet Cirebon selain mendapatkan pelatihan yang berat selama Pendidikan PETA, para tokoh ulama dan jawara pergabung dalam pasukan ini guna melawan penjajahan Belanda. Pasukan Hisbullah yang di kenal dengan pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat ikut juga bertempur pada tanggal 10 November di Surabaya, dan berperan serta aktif ketika terjadi gencatan senjata dalam perjanjian Renville.

Penutup
Demikian sekilas tentang perkembangan silat dan kaitannya dalam perjuangan bangsa, masih banyak lagi peranan silat dalam membangkitkan semangat juang para pejuang dan pendekar dalam membela kemerdekaan bangsa ini semasa revolusi fisik dulu. Mudah mudahan tulisan ini membangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan pada budaya tanah air khususnya silat yang merupakan warisan luhur dari budaya bangsa kita.


tulisan ini sudah di muat juga di
- http://www.nagapasa.multiply.com/
- http://www.wikimu.com/

Blog EntryAug 19, '08 8:14 PM
for everyone
Merdeka!! Dirgahayu Republik Indonesia !!

Saya kerap mendapatkan pertanyaan menyangkut Pencak Silat, yang menurut saya seolah telah menjadi anggapan umum dan menjelma menjadi image yang melekat pada Pencak Silat. Tulisan berikut ini mencoba menjelaskan dan berusaha menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut.

1. Pencak Silat = mistik, gaib dan tidak ilmiah?

Pertanyaan pertama yang sering dilontarkan adalah : mengapa pencak silat kental sekali nuansa mistiknya? Apakah pencak silat, atau belajar silat harus mengikuti program mistikisasi juga?

Jawaban saya adalah tegas : TIDAK! Silat adalah silat; mistik/ilmu gaib adalah soal lain lagi. Kalau kita berbicara tentang silat, maka yang kita bicarakan adalah teknik-teknik jurus, langkah, menyerang dan bertahan. Semua itu sangat, sangat jelas dan kasat mata. Silat adalah permainan fisik, satu-satu nya unsur kebatinan di dalam silat adalah melatih hati nurani untuk selalu rendah hati, tidak sombong, dan mendekatkan diri pada sang pencipta serta tentu saja mempererat silaturahmi. Unsur-unsur yang terkandung dalam pencak silat adalah gerakan fisik (di sini kita berbicara tentang jurus/olah gerak). Mulai pertama kali kita belajar silat, yang kita latih adalah gerak badan secara menyeluruh. Melatih langkah dan jurus agar lincah dan refleks, melatih kuda-kuda agar kokoh, melatih aplikasi untuk bertahan dan menyerang. Bahkan melatih pernafasan untuk membangkitkan tenaga (dasar) dan/atau menguatkan otot-otot tubuh adalah aktivitas fisik semata.

Lalu kenapa cap mistik melekat di silat?

Apakah karena adanya pesilat yang kebal? Debus?

Pukulan yang bisa menghanguskan musuh, dll?

Semua hal tersebut jelas-jelas bukan pencak silat. Kemampuan itu dilatih tersendiri bagi yang berminta menguasainya. Bukankah hal-hal yang beraroma mistik/metafisika juga terdapat di negara lain..?

Sekali lagi, pencak silat sama sekali bukan mistik. Kemampuan seorang pesilat yang bisa mengalahkan musuh (dalam pertarungan bebas) dengat sangat cepat dan mudah, sehingga seolah-olah seperti hipnotis/ilmu gaib, disebabkan pesilat tersebut telah mencapai taraf yang sangat tinggi dalam ilmu nya bukan karena mistik nya. Semua itu bisa dicapai asalkan kita berlatih dengan ikhlas dan tekun.


2. Pencak Silat identik dengan kekerasan?

Saya sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan ini, dan dari mana asal muasal nya. Terakhir kali pertanyaan ini diajukan pada waktu saya diwawancarai oleh salah satu penyiar radio swasta di Jakarta.

Jawaban saya singkat dan sederhana saja : adakah satu jenis bela diri di dunia ini yang tidak menggunakan kekerasan? Walaupun gerakan jurus Tai Chi begitu lemah gemulai, siapa yang menyangkal efek dari pukulannya yang bisa mematikan. Begitu juga dengan Aikido yang menitikberatkan pada unsur pengalihan tenaga lawan dan menjatuhkan lawan, tetap saja kental nuansa kekerasannya dan bisa mematikan. Hal yang sama berlaku untuk semua jenis bela diri, tak terkecuali pencak silat. Jadi sepanjang masih disebut ilmu bela diri, unsur kekerasan nya adalah pasti ada.

3. Pencak Silat kampungan?

Siapapun orang nya yang menekuni pencak silat tradisional pasti mahfum bahwa pencak silat bukan lahir di perkotaan modern dan baru-baru saja di abad millenium ini. Pencak silat telah berusia berabad-abad dan lahir dari olah cipta, karsa dan rasa yang sangat kental dengan nilai-nilai luhur budaya tradisional nenek moyang kita. Nilai-nilai, kaedah, dan filosofi silat tidak bisa begitu saja di modern kan mengikuti perkembangan jaman. Kesan kampungan ini tidak bisa dielakan bila sudut pandang kita terpaku pada kisah masa lalu, dongeng-dongeng dan tayangan film atau sinetron. Bahwa orang yang berlatih pencak silat terkesan kumuh, seragam hitam-hitam yang menyeramkan dan kadang bertelanjang dada sudah tidak relevan lagi untuk saat ini. Perguruan-perguruan silat yang lahir sejak jaman kemerdekaan hingga saat ini telah memakai seragam yang beraneka warna, desain yang menarik dan berlatih di tempat terbuka pada pagi dan siang/sore hari.

Kalau masih terkesan kampungan juga, itu hanya cap yang dipaksakan untuk merendahkan nilai pencak silat. Sebagai bagian dari seni dan budaya tradisional, Pencak silat hidup subur di kampung-kampung, atau desa-desa. Masyarakat berlatih silat, mendalami nilai-nilai luhur pencak silat, kaedah dan filosofi silat apakah itu kampungan??

Komunitas Sahabat Silat yang bernaung dalam Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia adalah para penggila silat yang mempunyai misi mengembangkan dan melestarikan silat tradisional Indonesia. Menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam nya. Mereka terdiri dari berbagai macam profesi, ada seniman, profesional, usahawan, wartawan, Pegawai Negeri, dan lain-lain. Mereka berpakaian rapi bahkan kadang berlatih silat dengan kostum warna-warni, hem dan pantalon, celana training dan kaos/T-shirt. Jauh sekali dari kesan norak dan kampungan.


Sekian,

Wassalam


Tulisan ini diambil dari Blog seorang Sahabat Silat: princeofbatavia.multiply.com
trimakasih sebesar2nya buat Gan Ochid....

Blog EntryAug 16, '08 9:16 PM
for everyone
Tribute to : Semua Sahabat di Komunitas Kaskus Martial Arts Forum, Grand Master Ciriaco "Cacoy" Canate (Cacoy Doce Pares - World Federation Arnis Eskrima), Master Guro Glen Gardiner (CMAA INDONESIA: CDP-WF Dan 6 Black Belt), Pak Irwan Hermawan (Jakarta Kenjutsu Club)

Cerita jujur dalam pengalaman awal memberi materi dalam Study Club FMA (Filipino Martial Arts) secara otodidak....

Saya pernah juga icip2 beberapa aliran beladiri spt gulat, tinju, kyokusin dll, tapi semua itu ga bisa disebut saya punya basic disana. Mungkin kalau boleh dibilang yang belajarnya agak lama adalah Pencak Silat, Kuntao dan sedikit Knife Fighting.

Kemudian tertariklah saya dg yang namanya FMA (Filipino Martial Arts), di awal2 di Komunitas Kaskus Martial Arts Forum , nama beladiri Filipina itu ajah masih bingung, yang saya tau hanya Kali, itupun karena saya suka knife fighting terus ketemu Sayoc Kali dan Pekiti Tirsia Kali, masih inget betul karena ketidaktahuan waktu saya nulis kata "escrima" ada yang protes, katanya yang benar adalah "eskrima" beda "c" dan "k" (ternyata keduanya dipake, bisa dipake kata escrima ataupun eskrima, hanya sajah yang lebih banyak dipake adalah eskrima, pake "k").

Setelah beberapa waktu belajar sendiri saya memutuskan bahwa belajar sendiri tidak akan membawa manfaat, beladiri adalah praktikal bukan hanya teory sajah.

Mulailah bergerak mencari para sahabat yang sehobi, FMA(Filipino Martial Arts) tidak dikenal oleh masyarakat kota kecil, jadi harus merayu2 dulu, memberikan beberapa peragaan yang masih gratul2, dan beberapa orang tertarik, kemudian berjalanlah Study Group tersebut.

Banyak temen yang skeptis terhadap keilmuan baru tsb, klo skeptis ya harus pembuktian, Awal dari belajar dari ketidak percayaan teman terhadap satu teknik yang memang saya blom menguasai dg benar menimbulkan satu kekonyolan demi kekonyolan yang memalukan, bagaimana tidak, pernah kejadian:
1. satu kuncian stick fighting bisa berubah jadi bergumul di lantai (jadi gulat).
2. karena tidak benar dalam eksekusi justru stick lawan bikin benjol kepala sendiri.
3. mau mengunci dg teknik torsion (putaran sendi) malah jadi kesleo, karena salah prinsip
4. ngotot bahwa kuncian itu lebih bermanfaat dari striking, padahal striking itu hal pertama dalam urutan jarak.
5. masih inget betul, jempol kanan saya kepukul dg keras oleh mas Tenji (nick seorang sahabat Kaskuser) yang ternyata kidal.
6. memfonis satu teknik ga berguna, ehh ternyata prinsip yang dipake salah dalam detailnya.
dll

Keledai yang digambarkan dungu oleh sebagian orang, tidak pernah masuk terperosok dalam lubang yang sama, demikianlah perjalanan demi perjalanan membuat proses belajar dari ketidakmampuan menuju tau (kalau dibilang menguasai nanti jadi kegedean empyak).
feed back, itu yang selalu saya lakukan, bila saya gagal dalam satu teknik, saya akan mencari dan mencari lagi.

Ya itu sulitnya belajar tanpa guru resmi, teman2 yang disini adalah guru saya, Juga teman2 pelatihan dalam Study Club itulah guru2 saya, untung mereka ga langsung cabut, tetapi tetap semangat dalam mengupas satu teknik ke teknik lainnya untuk mencari yang bisa terbukti dan bisa dipake...

Kaskus Forum Martial Arts pun punya andil besar dalam perjalanan FMA saya, pertemuan dan semangat yang diberikan, dan melalui Pak Irwan Hermawan (nick di Kaskus: Tenshin Shoden), ketemulah saya dg orang yang selama ini saya cari, yaitu Guru FMA beneran, Pak Glen Gardiner, banyak hal2 baru yang saya dapatkan, banyak prinsip2 yang pada awalnya salah dibetulkan, yah boleh dibilang disitulah saya menemukan "roh" dari FMA, dan dari situlah saya mendapat kesempatan untuk bertatap muka langsung dg beberapa tokoh papan atas FMA dunia, bahkan bisa bertatap muka langsung Grand Master Cacoy Canate sendiri....


Saya, Pak Irwan Hermawan dan Grand Master Ciriaco "Cacoy" Canete

Sampai saat inipun saya masih dalam proses pencarian, semoga apa yang saya share ini bisa dipetik manfaatnya oleh teman2 yang memiliki kondisi kesulitan dalam mencari guru Style MA ideal yang menjadi impiannyah....

Salam,
Tonny Harto
CDP-WF Stick Fighting World Championship 2007:
2 Gold Medals Men's Middleweight (SR-I)


Blog EntryAug 16, '08 4:39 AM
for everyone
Merdeka!! Dirgahayu Republik Indonesia !!

Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas, yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Sheikh Shamsuddin (2005), berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat.

Bahkan sesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu.

Dalam historisasi pencak silat dapat disimpulkan bahwa terdapat dua kategori akar aliran pencak silat, yaitu: Aliran bangsawan dan Aliran rakyat

Aliran bangsawan, adalah aliran pencak silat yang dikembangkan oleh kaum bangsawan (kerajaan). Ada kalanya pencak silat ini merupakan alat pertahanan dari suatu negara (kerajaan). Sifat dari pencak silat yang dikembangkan oleh kaum bangsawan umumnya tertutup dan mempertahankan kemurniannya.

Aliran rakyat, adalah aliran pencak silat yang dikembangkan oleh kaum selain bangsawan. Aliran ini dibawa oleh para pedagang, ulama, dan kelas masyarakat lainnya. Sifat dari aliran ini umumnya terbuka dan beradaptasi. Bagi setiap suku di Melayu, pencak silat adalah bagian dari sistem pertahanan yang dimiliki oleh setiap suku/kaum. Pada jaman Melayu purba, pencak silat dijadikan sebagai alat pertahanan bagi kaum/suku tertentu untuk menghadapi bahaya dari serangan binatang buas maupun dari serangan suku lainnya.

Lalu seiring dengan perjalanan masa pencak silat menjadi bagian dari adat istiadat yang wajib dipelajari oleh setiap anak laki-laki dari suatu suku/kaum. Hal ini mendorong setiap suku dan kaum untuk memiliki dan mengembangkan silat daerah masing-masing. Sehingga setiap daerah di Melayu umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat.[3] Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada. Adapun sesungguhnya kedua tokoh ini benar-benar ada dan bukan legenda semata, dan keduanya hidup pada masa yang sama.

Perkembangan dan penyebaran Silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.

Disadari atau tidak peperangan tentunya melibatkan satu ilmu beladiri, kalau balik lagi melihat sejarah, betapa para para pahlawan perjuangan RI adalah orang2 yang piawai dalam ilmu beladiri. Sebut sajah dari berbagai daerah di Indonesia, Malaka, Kesultanan Ternate dan Tidore Teuku Cik di Tiro, Imam Bonjol, KH. Zainal Mustafa, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, dan nama-nama lainnya, yang mana menunjukkan bahwa kalangan ulama sekaligus pahlawan nasional ini adalah adalah perintis pengembang pencak silat di Nusantara. Kalau kita kilas balik lagi dan melihat dari aliran Banjaran yang sekarang berkembang sebagai perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah, perguruan pencak silat yang menjadi salah satu perguruan historis IPSI. aliran banjaran juga telah melahirkan pendekar besar bangsa Indonesia yang sangat patriotik, seorang Bapak TNI "Jenderal Besar Soedirman". Beliu adalah murid langsung dari KH Busyro Syuhada, guru besar aliran Banjaran.

Semenjak pencak silat khususnya di Jawa pada tahun 40 an digemari oleh kalangan pemuda pelajar untuk mempersiapkan kemerdekaan RI, apa lagi sesudah pencak silat di tahun 1942 masa Jepang distandarisasi digunakan sebagai sebagai program ilmu beladiri yang dia jarkan kepada PETA(Pembela Tanah Air), Pasukan Pelopor dsb. Jepang memberikan masukan dalam methoda pengajaran pencak silat sebelum dimulai, terlebih dahulu melakukan "taizo" pemanasan agar tidak terjadi cedera otot. Sejak itu lah perguruan pencak silat yang dimotori oleh kalangan pelajar ex PETA, Pasukan Pelopor dan Haiho.

Sistem pengajarannya sebelum berlatih mengenakan serimonial seperti beladiri Jepang (upacara, menghormat, berdoa dan mulai pemanasan, berlatih dan ditutup dengan cerimonial lagi) karena itu berbeda pencak silat sistem pengajarannya antara pencak silat dari dari Jawa Tengah, Jawa Timur dengan Jawa Barat dan Sumatera barat)

Dalam Peringatan Kemerdekaan RI yang ke-63 ini, kembali mengukuhkan semangat Kebangsaan menuju Kebangkitan Nasional Kedua, Pencak Silat telah memberikan banyak sumbangsih pada negara dan bangsa ini, dan para cerdik cendekiawan yang bijak mengatakan: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya luhurnya sendiri. (HC)

Daftar Pustaka:
KPS Nusantara: Perkembangan Pencak Silat (Kumpulan)
Sahabat Silat: Tapak Suci Putera Muhammadiyah
Wikipedia Indonesia: Pencak Silat


Kadang ada pertanyaan bagaimana teknik membunuh dg tangan kosong? lha kenapa harus susah2 belajar beladiri kalau tujauannya membunuh? Secara tidak disadari bagi yang bertanya demikian udah kalah sama "si Ryan", tuh yang udah bunuh beberapa orang dan ditenem dirumahnyah, kira2 dia itu belajar beladiri apa ga yah?

Apakah tujuan belajar beladiri itu buat membunuh? dan kadang suka dipertanyakan adalah teknik membunuh dari beladiri sport, lha apa ya bisa nyambung? kan konteksnya udah berbeda? kemudian tidak habis2nya pembandingan2 lagi yaitu satu bentuk beladiri "X" yang lethal dg teknik membunuh secara tangan kosong dg beladiri sport yang dipertandingkan.

Ya saya menilai pembandingan mereka tentunya selalu masuk koridor "do" atau "way" bukan pembandingan "do" dan "jutsu", oleh sebab itu pembandingan hanya terbatas pada pemakaian tangan kosong, bukan pembandingan dg beladiri bersenjata, rupanya masyarakat awampun pada dasarnya udah ngerti mana yang "do" dan "jutsu", hingga jarangnya pembandingan tangan kosong dan pemakaian senjata, kenapa mereka bisa membandingan tangan kosong yang "do" dan tangan kosong yang "jutsu" itu karena dasar pengetahuan yang kurang kuat, jadinya otomatis salah kaprah...

Seperti yang udah pernah saya posting di thread lainnya, kebayakan kalau berbicara ilmu beladiri adalah beladiri yang ga pake senjata? ya apa iya?

Lahirnya beladiri tangan kosong adalah karena pelarangan penguasa. Jaman kuno (Jepang, China, Majapahit, Eropa dll) ada satu bentuk pelarangan terhadap senjata tertentu, karena senjata bagaimanapun juga bila diijinkan bagi orang2 sipil nantinya akan membuat chaos, pemberontakan dll.

Nah kebanyakan masyarakat kita ini terdoktrin, beladiri itu sarat dg muatan filosofi dan spiritual, beladiri adalah satu sikap kesatria, sportif dll, terakhir adalah bahwa beladiri itu adalah beladiri tangan kosong, nah ini adalah warisan lehuhur akibat pelarangan penguasa terhadap senjata tajam itu.

Saat inipun penguasa tetap memberlakukan pengawasan terhadap senjata spt yang tertuang dalam UU Darurat No.12 th 1955, ttg pelarangan senjata tajam. yah pada akhirnya klop juga kan, jaman dulu dan jaman ini senjata sama2 di marginal, ya karena buahaya tentunyah.....

Padahal beladiri bersenjatapun dalam perkembangannya, jadi tetep dipertandingkan!! Nah loh!? hal yang paling berbahaya pun bisa di haluskan dan dikasih aturan, pertandingan adalah satu hal yang sangat dibutuhkan safety untuk para pelakunya (padahal bonyok juga yah....) untuk itu tentunya segala atribut yang ada harus disesuaikan, dari edges weapons menjadi blunt weapon atau aturan2 yang sangat tegas terhadap senjata tajam itu sendiri:

- Dalam Kendo, “Katana/Shinken” menjadi “Shinai” atau “Pedang Bambu”.

- Board Sword yang berat dan Rapier yang tajam pada Historical Fencing disesuaikan menjadi, “Sable”, “Dagen” dan “Floret” pada Modern Fencing.

- Kampilan, Pinuti, Barong, tidak boleh dipakai, yang dipertandingkan dalam Eskrima adalah Stick Fighting. Knife yang tajam, diganti pisau kayu.

- Dalam Kenjutsu yaitu seni pedang Jepang sendiri masih dipertandingkan, begitu banyak Ryuha di Jepang, Eropa, dan belahan benua yang lain yang masih mempertandingkan bagaimana keindaan seorang “Samurai” dalam mencabut pedang, memotong tatami yang berisi bambu dalam tameshigiri.

- Ilmu Archery atau panahan, ada dipertandingkan juga di Olimpiade.

- Banyak sekali klub2 dan organisasi lempar pisau di eropa maupun amerika dan mereka mempertandingkan juga dalam berbagai kelas.

- dan lain-lainnyah.

Kita sudah belajar satu aliran dg teknik membunuh dg bagus, dan bila kita bisa bertarung dg satu aturan (baca pertandingan persahabatan) itu akan mendapat satu nilai yang lebih...

Kalau kita kembali melihat sejarah, tentunya begitu banyak tokoh2 yang bisa dijadikan panutan dimana bisa mengangkat dan memberi nama harum setiap "aliran" yang sudah terbentuk, kita bisa lihat begitu banyak tokoh2 yang "super mumpuni" dimana tentunya bisa menempatkan diri pada setiap keadaan, dimana mereka bisa menyetel seni beladiri itu sebagai apa? Sebagai ilmu berkelahi, sebagai olahraga (termasuk pertandingan), sebagai penunjang kesehatan, serta sebagai seni beladiri secara utuh lengkap dengan spiritual dan filosofi-nya.

Sesuai dengan judul "Olahraga Beladiri Dan Seni Beladiri Seharusnya Saling Menunjang" Seorang seniman beladiri sejati harapannya adalah bisa bertarung secara ilmu berkelahi tanpa aturan, bisa bertarung dalam banyak aturan dalam olahraga beladiri yang telah disepakati. (HC)

Ditinjau dari budaya barat, bela diri lebih populer memakai kata "martial arts", kata "martial" diambil dari nama Mars, dewa perang Romawi kuno. "martial arts" secara harafiah bisa bisa diatrikan sebagai seni perang, kata ini sudah populer di Eropa pada abad 15 (tetapi ini menurut literatur lho, hanya mengutip, jadi ga tau kalau ada referensi yang lebih valid)

Selain itu dalam tinjauan budaya barat ada pula kata "self defence", dalam bahasa Indonesia populer sengan istilah "seni bela diri" yang berarti cara mempertahankan diri sebagai satu eksistensi yang mempunyai hak bebas berkehendak sebagai mahluk hidup dari serangan secara fisik oleh orang lain baik perorangan atau kelompok. Self defence atau seni bela diri lebih menunjukkan sisi pasif dari martial arts, dimana setelah ada aksi baru ada reaksi, ketika tidak ada aksi sama sekali otomatis akan ada dalam suatu keadaan diam atau pasif. dan itu sudah diterangkan dengan gamlang diatas oleh para sahabat silat.

Konteks beladiri saat ini adalah Martial Way, nah ini kan sudah beda, bukan war/perang lagi yang diutamakan tetapi menjadi "jalan, path, atau way", dg kata lain beladiri sudah disantunkan...
Ini sangat terlihat jelas sekali pemisahannyah dalam Beladiri jepang, pada Restorasi Meiji (1868) dimana ada "gendai budo" dan "koryu bujutsu", dg pemisahan pengakhiran "do" dan "jutsu", dimana setiap "do" adalah dipelajari orang sipil, dan "jutsu" tetep dipelajari militer, Dan kalau kebetulan kita semua yang bincang2 ini adalah bukan orang2 yang punyah: Lisence to Kill, semua pembicaraan ini tentunyah masuk dalam koridor "do"/"way" sajah.

Dalam perkembangannya tentunya dibuat pula tiruan dari pertarungan/perkelahian sebenarnya dalam bentuk "pertandingan", Nah dari situ sebenarnya apa yang terjadi? Dalam kenyataannya ada yang membuat penyantunan atau penghalusan Seni Beladiri itu dengan memberikan muatan Spiritual dan Flilosofi, berarti ada self kontrol dengan kesadaran diri tapi tetap bermuatan "Seni Beladiri Seutuhnya "tau teknik berbahaya tapi karena hanya pertandingan maka tidak dipakai, tapi karena system yang terus berkembang mungkin disadari atau tidak telah terjadi penyunatan terhadap muatan nilai dari Beladiri itu sendiri. Satu Seni Beladiri yang tadinya "lethal" dan mematikan, semua teknik yang berbahaya disunat dan tidak diajarkan, dan itu berkembang dari generasi ke generasi dimana pada akhirnya akan menimbulkan satu kelompok generasi yang "tidak tahu"

Kembali lagi, karena tidak ada pemisahan dan kebetulan yang lebih gencar di ekxpose adalah yang "Pertandingan Beladiri" dg liputan berbagai media, menghasilkan begitu banyak duwit bagi yang mengelola dan bla-bla-bleh.... pada akhirnya, Seni Beladiri sendiri jadi dipertanyakan, dan ada begitu banyak perbandingan2 yang dibuat oleh masyarakat awam Seni Beladiri.

Ya tetep kembali sah-sah sajah, lha wong mereka tidak tau dan tidak ngerti! Nah bagaimana dengan kita sendiri? dimanakah kita akan memposisikan diri? "mumpuni" hanya dipertandingan thok? (sambil nunjuk diri sendiri yang masih cindil dalam "level" pertandingan) atau mumpuni secara Seni Beladiri seutuhnyah? Dan itu semua bisa dijadikan perenungan buat kita arah mana yang akan dituju pada masing2 pribadi dalam Seni Beladiri...

Semoga bisa dipahami maksud dan tujuan saya, kalao tidak berkenan dimohon maaf yang sebesar2nyah, trimakasih... (HC)

Manusia yang mau maju tentunya tidak akan cepat berpuas diri, tapi punya visi kedepan, tahapan yang harus dilalui dan cita2 luhur, apalagi kalau melihat sejarah tokoh2 panutan, untuk itulah semangat mengejar sesuatu yang tinggi itu perlu, bila tidak ada hitam tentu orang tidak akan kenal putih, bila tidak ada siang tentunya orang tidak akan kenal malam, itu adalah pembandingan yang ekstrem, tapi tidak seperti demikian yang akan kita bahas disini, kalau demikian apa bedanya dengan orang yang hanya tau hitam dan putih saja, disini kita membicarakan tahapan dalam MA yang harus dilalui seperti kata bijak: "Kalau mo jadi ahli ya seenggaknya lewatin level gak tahu, tahu, paham, ngerti, bisa, terampil, mahir, ahli, ame cinta trus...mati deh"

Ilmu berkelahi adalah satu hal yang masih "rare", sadis yaitu cara pembelaan diri manusia secara fisik sajah tanpa aturan, segala sesuatu halal, apalagi yang kotor, curang dan licik, semakin brutal semakin bagus, kalau dibuat dalam bentuk jamak dan melibatkan orang banyak jadi "Seni Perang", apapun dilakukan dg teknologi persenjataan dll. Karena dikalukan oleh masyarakat yang bervariasi dan berbeda2 dengan kebudayaan dan seni masing2 maka boleh dibilang Aspek Seni dan Budaya, Satu tingkat lebih tinggi lagi adalah memasukkan unsur Spiritual dan Filosofi, nah ini juga membatasi keadaan manusia, bukan karena terpaksa karena aturan orang kedua dg perjanian dll atau yang sudah dibuat oleh pihak ketiga, tapi karena kesadaran akan sesuatu Yang Lebih Tinggi, disini yang membatasi adalah secara kesadaran akan diri sendiri.

Perkembangannya adalah “Olahraga Beladiri”, pengen sehat-pun bisa berlatih berladiri, didalamnya ada satu tiruan pertarungan sebenarnya yang disebut “pertandingan”, ini satu bentukan yang diatur oleh perjanjian yang melibatkan pihak kedua dan pihak ketiga, keselamatan menjadi sangat penting, walaupun toh ada ajah yang masih namanya kecelakaan sampe meninggal dunia, sportifitas, ini yang disebut sebagai Seni Beladiri.

Pendekatan yang berbeda:
Pemikiran lain dari “Olahraga Beladiri” adalah karena adanya aturan yang sudah dibuat, oleh sebab itu ga ada salahnyah bila yang diatur tadi justru yang dimatangkan dan mendapat perhatian yang lebih, sehingga sebenarnyah Olahraga Beladiri bisa sajah menjadi satu bentuk yang lepas jika begitu banyak hal dari Seni Beladiri secara utuh yang dianggap berbahaya di buang dan dianggap tidak perlu diajarkan.

Yah ini memang satu hal yang wajar dan tidak bisa disalahkan, en toh sesuai dg perkembangan jaman.

Tulisan seorang rekan:
"Bertahun waktu lalu saya ngobrol dengan pelatih Tae Kwon-Do nasional, Mas Yoyok, di Jogja. Dia tahu pasti bahwa yang dia ajarkan pada murid-muridnya adalah ilmu olahraga, bukan ilmu berkelahi yang sebenarnya. Tapi dengan ilmu ini, dia berhasil mengangkat beberapa pemuda berandalan menjadi orang bertanggung jawab dan mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di kancah internasional. Seandainya tidak menemukan harga diri melalui olahraga Tae Kwon-Do ini, mungkin sekali para pemuda tersebut akan berakhir sebagai korban pembunuhan di daerah kumuh di Jogja."

Ya memang sih, tetapi bagi orang yang tau, (“Mas Yoyok, di Jogja. Dia tahu pasti bahwa yang dia ajarkan pada murid-muridnya adalah ilmu olahraga, bukan ilmu berkelahi yang sebenarnya.”) tentunya mengambil jalan yang lain, yaitu mengembalikan apa yang menjadi keharusan inti Seni Beladiri itu sendiri, tentunya yang menjadi landasan adalah sesuatu yang sudah dipikirkan oleh para pendahulu kita dengan memasukkan 4 Aspek yang sudah ditulis diatas: "Olahraga-Kesehatan, Beladiri, Seni Budaya, dan Spiritual dan Filosofi." (minjem punya Pencak SIlat), Jadi lengkap gitu lohh....

Jadi cita2 dan visi Seniman Beladiri sejati adalah seorang praktisi Seni Beladiri yang "mumpuni", sesuai harapan dari ke-4 Aspek dalam Pencak Silat, mempunyai ilmu berkelahi, bisa olahraga beladiri, melestarikan seni dan budaya, terakhir adalah punya spiritual dan falsafah yang tinggi.
Siapa dia? Ya anda mungkin adalah salah satunya...
(HC)

Seni beladiri adalah satu bentuk yang diciptakan atau tercipta untuk memaksimalkan potensi yang ada pada manusia, untuk mempertahankan diri, untuk melindungi diri terhadap serangan secara fisikal pada eksistensi manusia itu sendiri, dengan kata lain seni beladiri adalah sesuatu yang pasif, bukan sesuatu yang aktif.

Dalam kenyataannya sifat manusia yang punya ego mungkin bisa menempatkan Seni Beladiri menjadi bergeser. Perebutan kekuasaan, keserakahan, ketamakan dan segala sifat buruk manusia pada akhirnya bisa menjadi kalimat aktif, tentunya dipakai kata yang lain untuk mewakilinyah dan itu berubah menjadi "Ilmu Berkelahi", Tanpa aturan, taktik dan strategi dll dimana menempatkan "Ilmu Berkelahi" menjadi sesuatu yang "lethal", sangat mematikan dan membunuh.

Hukum, kebudayaan, kemasyarakatan yang semakin santun menempatkan "Ilmu Berkelahi" kembali menjadi "Seni Beladiri", Hal yang brutal, bersifat menghancurkan "diubah" menjadi sesuatu yang beradab. perkembangan jaman pun menuntut satu bentuk lain dari "Seni Beladiri" menjadi "Olahraga Beladiri", kalau pada awal2nya dua orang yang bertemu dan menciptakan satu kesepakatan untuk "pembuktian" ya otomatis teken "kontrak mati", tapi itu semua jadi berubah, menjadi "pertandingan"

Beladiri sebagai Pertandingan itu adalah sarana latihan, praktek beberapa jurus, kecerdikan, kekuatan, kecepatan dan banyak lagi. Pertandingan beladiri ini adalah permainan, the game... seperti playstation, skateboard, sepakbola, dll.

Hal paling penting yang didapat adalah kesempatan untuk mendapatkan pengalaman, kita tau bagaimana caranya memukul, mengunci, menbanting dll. sebaliknya kita juga jadi tahu rasanya dipukul ditendang dan dibanting sekeras-kerasnya. dalam hal ini adalah sesuai dg prinsip beladiri sendiri semakin banyak beladiri diasah dipraktekkan hasilnya adalah menjadi semakin baik.

Dg adanya even2 pertandingan yang merupakan permainan resmi di antara para praktisi beladiri disana juga merupakan ajang yang tepat untuk mencari kawan2 baru, berkenalan, bersilaturahmi.... baik diantara kawan seperguruan maupun dengan kawan dari perguruan lain.

Disamping hal utama tersebut disini kita bisa memberi dan bisa untuk mengharumkan kelompok komunitas, kedaerahan, bahkan mengharumkan nama bangsa dan negara. bahkan.... ini yang keren, anda bisa membuat uang disana! Begitu banyak bonus yang dijanjikan dalam Prestasi Olahraga oleh negara! hahaha emang bener nih?

Ada alasan pelesarian beladiri Tradisional yang tidak dipertandingkan? Good!! Tetapi apakah pelestarian beladiri Tradisional tidak bisa disetel dengan Olahraga Beladiri?

Kenyataan yang ada dalam masyarakat, ada yang mengagungkan Olahraga Beladiri, tetapi ga jarang juga yang memojokkan Olahraga Beladiri menjadi sesuatu yang tidak ada apa2nya dan tumpul, dikatagorikan sebagai "level rendah", Lho? hehe tetapi bener kan memang ada anggapan demikian?

Ada kalimat bijak, "Orang yang menang perkelahian tanpa melukai lawan adalah ahli", ini mengajak kita semua utuk mengembalikan posisi "Seni Beladiri" secara utuh dimana hal yang terikat pada aturan, harusnya menjadi sesuatu yang "mempunyai tingkatan lebih" dari sesuatu yang tanpa aturan.

Jadi akhir kata saya menulis, Beladiri Sebagai Olahraga yang Dipertandingkan? Kenapa tidak? Tunjukkan prestasi anda disana, apalagi buat praktisi2 yang mempunyai usia muda....

Hehe anggap sajah ini adalah propaganda Beladiri Sport!! (HC)

Kolonel Dave Grossman, seorang pendidik ilmu militer dalam bukunya "On Combat" (PPCT Publishing, 2007) menyitir sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata manusia juga memiliki spesialisasi genetik seperti yang dimiliki serangga. Kalau kita melihat bahwa di dunia serangga terdapat penggolongan alami masyarakat menjadi golongan ratu, pejantan, pekerja dan prajurit... hal yang saya berlaku juga di manusia.

Penelitian itu menyebutkan bahwa sekitar 2% dari manusia dilahirkan dengan catatan genetik untuk menjadi golongan prajurit, yaitu orang-orang yang secara alami akan tertarik pada kegiatan yang berbau kekerasan, perang dan segala pernak-perniknya, meskipun tidak seperti serangga yang perbedaan fisik antara pekerja dan prajurit terlihat jelas. Sedikitpun ini bukan kesalahan, ini sama saja seperti orang-orang yang secara alami tertarik pada tari, bahasa, rekayasa (engineering), bisnis dan banyak lagi.

Penelitian ini menyebutkan bahwa orang yang pada dasarnya bukan prajurit, perlu pelatihan mental khusus untuk bisa berperang dengan baik. Di banyak kasus yang diteliti di berbagai perang sejak abad 19, ditemukan bahwa banyak prajurit yang gugur tanpa sempat menembakkan senjatanya, semata-mata karena mereka tidak sanggup membidik dan membunuh sesama manusia. Ini tidak berlaku untuk orang yang terlahir sebagai prajurit... mereka pembunuh efektif yang alami dan bahkan menikmati kegiatan tersebut. Buat mereka, senapan dan pisau adalah benda seni yang indah yang kerap dielus dan disayang, ilmu berkelahi adalah seni yang memiliki nilai yang dalam yang perlu ditekuni sampai ke cakrawala yang tak terbatas. Itulah panggilan jiwa.

Jadi kalau di masa kecil dulu kita beramai-ramai masuk silat, dan ketika teman-teman kita beramai-ramai pula pindah ke bidang lain sementara kita beberapa gelintir masih menikmati berlatih silat... maka itu memang cetak biru di dalam sel-sel yang kita bawa. Tuhan atau alam (tergantung kepercayaan kita) memang sudah menentukan demikian.

"Follow every rainbow till you find your way"

Tinggal pertanyaannya buat kita-kita yang tidak berkarir di dunia prajurit, bagaimana supaya naluri dasar itu menjadi pendukung di kehidupan yang kita jalani... bukan malah jadi penghalang. (Antara - Sahabat Silat)

Blog EntryJul 31, '08 3:07 PM
for everyone
Pengalaman seorang Sahabat yang berlatih Silat Cingkrik, saya rasa ini harus dibagi deh untuk para sahabat yang membaca Blog ini....

"Berlatih Cingkrik enam bulan terakhir ini saya menemukan bahwa jurusnya membentuk pola yang berbeda untuk sisi kanan dan sisi kiri. Saya melihat ada kecenderungan melatih tangan kanan sebagai pendobrak dan tangan kiri sebagai pamungkas (istilah yang bukan standar yaa... cuma asal comot... intinya kanan dan kiri punya fungsi masing-masing yang tidak untuk dipertukarkan).

Di bela diri yang pernah saya pelajari sebelumnya rata-rata melatih porsi yang sama dan serupa antara kanan dan kiri, walaupun prakteknya dalam pertandingan kita secara alami memisahkan fungsi kanan dan kiri.

Apakah pola seperti ini umum di aliran-aliran silat yang lain? Apakah memang silat membedakan fungsi sisi kanan dan kiri sejak awal latihan?"

Ini menarik, saya akan memberi pembanding saja dari disiplin keilmuan yang baru saya pelajari yaitu FMA (FIlipino Martial Arts).

Dalam FMA dikenal Espada y Daga (Pedang dan Pisau), dimana satu tangan memegang senjata utama yang panjang dan yang lainnya memegang senjata yang lebih pendek, disini ada beda dimensi dan beda terhadap jarak. Espada y daga akan melatih kewaspadaan akan serangan lanjutan, karena tangan support lawan dipersenjatai dengan sesuatu yang tajam yang justru punya peran "lebih", pergerakan-pergerakan detail sangat berarti dalam memanipulasi jarak pertahanan dan penyerangan, hingga praktisi selalu dalam keadaan siap.

Disini kebanyakan pemula dalam stick fighting salah pangerten dan justru mematikan peran daga (tangan kiri) padahal dalam prakteknya, adalah lebih mudah block senjata lawan dg senjata kita yang lebih besar (espada) dan secara otomatis nantinyah justru senjata yang lebih pendek dan kecil lebih bebas digunakan untuk eksekusi, senjata yang lebih utama (espada) secara logika akan mendapat perhatian lebih dari lawan.

Pengembangan lanjutan secara kurikulum akhirnya Espada y Daga ini akan
memberi pengaruh pada Double Stick yang tadinya diajarkan di awal2. nah disana akan terlihat betul bagaimana seorang stick fighter yang mengenal espada y daga atau tidak dilihat dari permainan double sticknyah. Dan ini nantinya juga sangat mewarnai permainan Tangan Kosong yang justru dalam kurikulumnya diletakkan di bagian akhir.

Tangan yang tidak dominan di FMA (Filipino Martial Arts) disebut bantay kamay.

"bantay" artinya dalam bahasa Inggris adalah guard, watcher to watch closely, to be on guard. Dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah "bantu", yang secara harafiah artinya adalah "mengawasi" atau "mengawal".

"kamay" artinya adalah "tangan".

terjemahan secara keseluruhan dari "bantay kamay" adalah "tangan yang mengawal", atau "tangan bantu".

Dengan demikian dalam FMA memang dipisahkan secara jelas antara bagian kiri dan bagian kanan, bagian yang dominant dan bagian yang mensuport.
walaupun namanya bantay kamay tapi perannya justru sangat besar, dalam permainan senjata ataupun tangan kosong, bantay kamay ini menentukan dan memudahkan sekali jalannya satu teknik...

Dan Inosanto, menterjemahkan bantay kamay sebagai "live hand".

"If a good Escrimador were asked to point out the singlemost important aspect that makes his fighting work, chances are he would refer to the use of the alive hand. The live hand is the real weapon." - Dan Inosanto

Dan memang bener bantay kamay sendirilah yang menghidupkan satu teknik dalam Arnis-Eskrima dan Kali, tanpa bantay kamay seorang petarung akan kehilangan irama dalam permainannya, entah itu nantinya tangan kosong, stick fighting ataupun edged weaponry system.

Bantay kamay merupakan bagian dari satu system pelatihan secara utuh, oleh sebab itu kita tidak bisa membahas hanya bantay kamay-nya sajah.

Dalam prakteknya semua beladiri pasti punya symmetry dan fokus kemudian detail, dan itu tentunya semua dibangun dari hal yang general/umum dulu, dalam FMA symmetry atau balance dibangun melalui drill double stick dalam bentuk sinawali yaitu pembagian yang merata antara kiri dan kanan terlebih dahulu, baru kemudian di berikan fokus pada single stick (baru disini dikenal kata bantay kamay) dan kemudian didetail dalam espada y daga.

Dalam pelatihan untuk orang kidal saya rasa seorang guru akan kesulitan memberikan langsung detail pada siswa yang bersangkutan, dan saya rasa inipun sama terhadap Seni Beladiri yang lain, justru pada tahapan tertentu siswa sendiri yang dituntut untuk menyesuaikan keadaan maksimal yang suiteble pada diri masing2.

General secara teknikal, seorang petarung seharusnya bisa fokus memakai tangan kiri dan kanan, hal ini merupakan tuntutan. Dalam FMA kurikulum double stick diletakkan lebih awal dari single stick, itu artinya bagaimanapun juga peran tangan kiri memegang senjata itu penting, walaupun tidak maksimal bagi orang ortodoks, tetapi pemakaian senjata pada tangan kiri adalah satu keharusan.

Satu hal lagi yang unik, dalam tahapan kurikulum, sama halnya double stick dan single stick, espada y daga dalam kurikulum juga diletakkan lebih awal daripada daga, nah disitu secara resmi pengenalan praktisi pada pisau pertama kali justru dimulai dari tangan kiri.

Dari pembagian kurikulum di FMA, pelatihan jurus2 di Cingkrik dan beberapa aliran Silat yang lain, dapat disimpulkan:

1. Bagian tubuh kiri pada umumnya (selain yang kidal) jarang sekali digunakan intensif sehingga tingkat keluesannya jauh dengan bagian tubuh (baik tangan maupun kaki) yang kanan. Melatih bagian kiri dengan porsi yang lebih (dengan beban maupun jumlah repetisi yang lebih banyak) akan membuat tingkat keluesan kiri dan kanan menjadi seimbang

2. Alasan lain adalah, bahwa pada prakteknya ketika kita berhadapan dengan lawan, tangan kanan kita akan berhadapan (baca: melayani) tangan kiri lawan, demikian juga sebaliknya. sehingga tanpa kemampuan yang seimbang dengan keluesan dan kekuatan tangan kanan lawan akan cukup merepotkan kita.

3. Kadang bagian tubuh (baca: tangan dan kaki) sebelah kiri kurang di perhitungkan oleh lawan, contohnya seperti ketika kita harus berhadapan dengan lawan yang kidal. kelebihan kidal adalah pada kekuatan dan keluesan tangan dan kaki bagian kanan. nah dengan melatih tangan dan kaki kiri kita maka akan amat sukar bagi lawan untuk membendung dan melayani permainan kiri kita. dan biasanya ini tidak disangka oleh lawan.

*Tulisan ini dibuat berdasarkan diskusi di forum Sahabat Silat: Majuuu... jalan...Kiri... kiri... kiri kanan... kiri... Trimakasih sebesar2nya buat: Bung Antara, Kang Nagapasa, Semua rekan dan admin Sahabat Silat

Salam,
HartCone


Pages:12345